PAGES

Senin, 05 November 2012

My " Eternal Kingdom "

Terlalu banyak "kejadian hidup" yang me-latar belakangi kenapa saya jadi seperduli skrg ini sama yang namanya dunia Perkembangan dan Pendidikan Anak, knp saya mau bertahan di dunia Pendidikan, di Sekolah tempat saya skrg "berkarya". Berangkat dari semangat mau bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya umat, dimulai dari yang terdekat. I've started the research at school, and on my duty as a psychotherapist. I found a lot of "incident" with the reasons underlying it. Semakin banyak liat kejadian, semakin prihatin, semakin penasaran, dan akhirnya saya semakin yakin tentang salah satu hal yang paling penting dalam hidup manusia, yaitu PERNIKAHAN!

Pernikahan bukanlah sekedar romance dan gemerlap gegap gempita perayaan walimah (resepsi).
Saya meng-ilustrasikan pernikahan itu adalah sebagai sarana pendukung untuk mempermudah saya menuju ke "Eternal Kingdom".

Journey to the "Eternal Kingdom"
Klo diilustrasikan perjalanan ksana itu seperti jalan panjang menuju satu titik yang keliatannya jauh dan panjaang tp ga tau tepatnya seberapa jauh, seberapa panjang dan apa aja hambatan yang bakal kita lewatin spanjang jalan itu. Yang kita tau cuma tujuan akhir kita, dan ada aturan-aturan/perintah yang harus kita taati supaya kita bisa sampe kesana dengan "selamat".

Dalam perjalanan ini baiknya kita fokus ke Tujuan, dan menjadikan pernikahan sbg SARANA yang memper-mudah, memper-ringan, dan mem-bahagiakan. Bukan yang memberatkan atau menyulitkan perjalanan kita menuju kesana. Apabila dengan tidak menikah itu lebih baik untuk kita selamat sampai ke tujuan, saya lebih memilih itu. Karena tidak sedikit dampak negatif dari orang-orang yang menjadikan MENIKAH itu sbg TUJUAN, yang melihat pernikahan itu dari sekedar EUFORIA semata, yang menikah ASAL-ASALAN dan melahirkan keturunan yg juga asal-asalan.. Merepotkan dunia! -__-'

Pernikahan sebagai sarana maksud saya adalah.. Klo kita liat ke gambar di atas, ilutrasinya kita Manusia punya tugas untuk berjalan di Dunia menuju ke "Eternal Kingdom". Fokus kita adalah berjalan menggunakan seluruh potensi yang diberikan Tuhan agar sepanjang perjalanan kita menuju kesana dipenuhi dengan amal-perbuatan yang baik-baik dan menguntungkan. Klo ternyata di tengah jalur perjalanan kita bertemu dengan seseorang yang satu tujuan, alangkah INDAHnya klo kita bisa berjalan bersama-sama, saling berbagi, dan saling menyemangati untuk bisa selamat sampai kesana.

a Partner

Poinnya disini adalah, kita harus sudah punya tujuan dan sudah punya jalur untuk sampai ke tujuan tsb, baru stelah itu bertemu seseorang yang ada di satu jalur itu. Bukan sibuk nyari seseorangnya dulu baru repot nentuin tujuan, atau bahkan sampe udah bertemu seseorangnya-pun kita masi belom punya tujuan. Jadi cuma sibuk "berdua-duaan" aja tanpa kebenaran arah & tujuan.

Nah, itulah yang awam terjadi sekarang ini; tingkat perceraian yang tinggi atau konflik rumah tangga yang berdampak besar ke perkembangan anak-anak mereka. Anak-anak dengan motivasi berprestasi rendah, absensi tinggi, kasus narkoba, kasus tawuran adalah beberapa contoh dampak dari orang tua yang tidak memiliki konsep pola didik, karena mereka belum paham betul fungsi menikah dan ber-keturunan itu apa. Mereka adalah pasangan-pasangan umum, yang menganggap pernikahan itu hanyalah satu tradisi umat manusia, bukan sebagai SARANA masuk surga.

Salam hormat saya untuk orang tua dari dia yg memiliki sense of serving others yg tinggi, yg bertanggung jawab, yg bekerja keras, dan yg beriman dengan logikanya. Ada harapan disini, untuk bisa memiliki teman seperjalan seperti dia. Namun sampai sejauh ini, saya blm berani memastikan seperti apakah teman seperjalanan saya nanti. Saya masih sibuk mempersiapkan amunisi, sibuk meng-upgrade diri agar PANTAS menjadi teman seperjalanan dari seseorang yg sudah tegas memiliki arah & tujuan.


Maksud "Eternal Kingdom" yang dari awal saya sebut-sebut itu adalah:
"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya."
(Q.S al-Baqarah: 25)


But still...No one can describe how amazing that "Eternal Kingdom" is...

Hadits Qudsi:
"Kusiapkan bagi hamba-hambaKu yang shalih, yaitu apa yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terlintas dalam hati semua manusia", kemudian Rasulullah Saw. bersabda: "Bacalah jika kalian mau,
'Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang' (Q.S As-Sajdah:17)"

Thanks my dear readers,
feel free to correct me if i'm wrong .
Salaaaam~
:)

Senin, 08 Oktober 2012

"Maaf, saya lagi sibuk!"


Anak, kalo diibaratkan sama Kahlil Gibran dalam puisinya yang berjudul  Children itu ibarat anak panah, orang tua itu busur, dan Pemanahnya adalah Sang Pencipta. Tugas orang tua itu sesungguhnya ya cuma jadi penopang yang  kondusif untuk si anak panah ini melesat dengan cepat, sejauh sesuai dengan tujuan Sang Pemanah, yaitu menuju "Keabadian". Orang tua, harus prepare betul untuk jadi busur yang kokoh. Harus tau betul apa aja kriteria menjadi busur yang kokoh itu gmn, harus tau juga tujuan Sang Pemanah mengarahkan si busur ini kemana.
Kalo perumpamaan versi Abah saya..
Manusia itu punya tujuan ke (misal) Surabaya, tugasnya orangtua ya siapin segala hal yang dia butuhin utk sampe ke surabaya, mulai dari kondisi fisik, mental, peralatan yang harus dibawa, kasih tau tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, nahh perkara dia mau naik apa kesana, urusan dia. Yang penting orang tua udah ngasih modal yang cukup supaya si anaknya bisa nyampe Surabaya dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun. 
Itu namanya orangtua Amanah..
Orang tua yang Amanah menurut pandangan saya, adalah orang tua yang mampu membangun kebiasaan seorang anak untuk menjadi pribadi mandiri yang tau siapa dirinya, mau kemana tujuan hidupnya, dan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut (i know who i am, where to go, and what to do). 

Nah, membangun kebiasaan itu kan gak bisa cuma teori. Anakmu itu Cerminanmu.. Harus dipraktekan dulu baru diajarin ke anaknya. Misal, anak diajarin harus mandiri, kerjain segala yang bisa dikerjain sendiri, tp kenyataannya ibu/bapak krn kondisi capek ato bahkan males dia teriak minta tolong ini-itu sama si mbak asisten RT. Gimana anak mau mandiri? Sementara yg dia liat contohnya aja macem bgitu.. 
Contoh lain, Anak dilarang pulang malem tapi bapak-ibunya tiap hari saking sibuknya kerja -brangkat pagi anak belom bangun, pulang malem anak udah tidur- giliran anaknya pulang malem diomelin abis-abisan, bahkan dipukulin. Klo begini yang salah siapa? Emang sih, kerja cari uang untuk anak.. tapi coba ditinjau ulang lagi apa aja yang bener-bener anak butuhin? :___(

Singkat kata, i'm not gonna judge anyone.
Saya cuma akan ngambil banyak pelajaran dari tingkah laku orang-orang tua yang ada di sekitar kehidupan saya, supaya suatu hari saya mjd mereka, perbendaharaan kasus saya buat jadi TAULADAN dari keturunan saya nanti udah cukup dan saya bisa menjadi Busur yg kokoh utk Anak Panahnya Tuhan sampe ke Keabadian.

Salam prihatin saya buat orang-orang tua yang susah diajak kerjasama buat ngedidik anaknya,
Ditelfon buat ngabarin perkembangan anaknya malah bilang:
"Maaf saya lagi sibuk!"  *sambil sibuk ngunyah, nutup telfon* 
*sambil nanar menatap HP gw bertanya dalam hati* "Ini sebenernya gw apa sih? Kok berasa sales credit card yaaa?"  LOL  
Saya ini guru Bimbingan Konseling yang mau ngabarin per'kembang-kempis'an Anak yang doanya bisa jadi bekal untukmu balik ke Surga! -_-'
*sigh*


 Nih kenalin anak-anak murid saya yang hits-hits..

Rayi Medina (si Dedeyii), XII

Afiff & Kevin (para tukang Joget Shuffle), XII

Wiwid, Mbaca, Dhea, Fira, Deyi, Didit Si Benn - XII


Ria, Uti, Drupadi, Angel - XI

Mbajel love u, anak-anaaaak!
Smg jadi anak-anak soleh/solehah yg bisa doain mamapapanya biar masuk Surga yaa..
*bigHUG*

Sabtu, 22 September 2012

a Teacher

Dulu pas SMP, ada 2 profesi yang saya paling GAK cita-citain, Guru dan Wartawan.
Mungkin gara-garanya waktu kls 3 SMP dulu temen-temen sekelas saya gila-gilaan ngrepotin gurunya. Pas SMA juga parah banget bandelnya, pas detik-detik terakhir KBM, mau UN.. 1 kelas janjian pake seragam lain sendiri pas upacara. Mau ditaro dimana muka Bu Tantin (wali kelas saya wkt itu) cobaak? Hadeeeh.. Maafkan kami bapak/ibu guru.

Sekarang ini, saya seorang Sarjana Psikologi. Kebetulan, pas banget abis lulus kuliah saya langsung kerja di Sekolahan. Tapi bukan sebagai guru, saya dikaryakan sebagai Humas atau Public Relations dari manajemen yang membawahi 2 buah Sekolah keren; Cakra Buana dan Bintara. Awalnya ditawarin untuk jadi guru krn latar belakang saya yg Psikologi itu berhubungan baik sm dunia Pendidikan, tapi saya langsung nolak dengan sigap. Alasan saya nolak waktu itu karena ngerasa takut dan belum pantes, saya pikir "Mau diajarin apa anak-anak murid klo gurunya aja masih kayak gw gini?" . Tahun ke tahun berjalan, sampe akhirnya masuk di tahun ke-3 saya ada di Sekolah dan berniat menjadi seorang guru. Saya mikir kalo nunggu sampe jadi bener dulu trus baru mau share ilmu atau ngajar jadi guru kapaan benernyaa.. Bener itu kan cuma punya Allah jd klo nunggu bener dulu mah susah atuuh.

Ini kurang lebih jalan di bulan ke-empat saya judulnya jadi Guru, and it's AWESOME! Comparing with my role as a PR before. This teacher profession makes me feel alive! Meeting the students everyday, shakes their hands everymorning makes me realize that my future, my country's future is on their hands. Orang tua dan gurulah yang berperan sangat penting untuk masadepan Negara ini. 
Just remember, they're the canvas and we're the painters. We gotta paint wisely..!

Doain yaaa, biar bisa jadi guru dan calon Ibu yg amanah, yg bisa menghasilkan pemuda/i amanah juga, yang bisa bermakna untuk alam semesta. 
Aamiiin...


with ma'm Hesti and Kamelia Rizki, graduated from Cakra Buana at 2012, she's a psychological college student rightnow!

Thanks for stop by and read, dear brother/sister!
Salaaaam :)

Selasa, 14 Februari 2012

"Happy in Hijab"

Assalamu'alaykum! :)

Hari Senin 13 Februari 2012 lalu, saya dan 2 org teman bikin acara kecil-kecilan di Mesjid Sekolah, sharing tentang kewajiban ber-hijab dan tutorial gaya-gaya hijab jaman sekarang.

Alasannya adalah karena mau berbagi "KEBAHAGIAAN". I am happy "in" my Hijab..
Saya bahagia berada di dalam balutan Hijab. Karena itulah, kebahagiaan tentang hijab ini harus dibagi. Alasan lainnya adalah setiap Muslim itu punya kewajiban untuk menyampaikan/mengingatkan apa aja tugasnya di Bumi ini, yaitu:
"Menjalankan perintah-Nya dan Menjauhi larangan-Nya."

Acara kecil-kecilan ini juga dibuat karena mau mendukung #GerakanMenutupAurat pada tanggal 14 Februari 2012, yang diprakarsai sama Teachers Working Group.

4 desain banner yang disiapin TWG untuk #GerakanMenutupAurat


Oia sebelumnya, saya kerja di Sekolahan, Sekolah Bintara dan Cakra Buana.
Makanya acara kecil-kecilan ini ngelibatin temen-temen siswi di Sekolahan. Nih bentuknya sekolahkuuu...

Sekolah Cakra Buana
Jl. Raya Depok Sawangan no. 91


SMP-SMA Bintara
Jl. Raya Depok Sawangan no. 19

Awalnya saya ngajak siswi-siswi SMA Cakra Buana yang pada pake hijab aja, tapiii ternyata ada bbrp siswi yang ga pake hijab juga mau ikutan. Alhamdulillah lucunyaa!





Mbak Lya in action!
Saya dibantu sama Mbak Lya buat Hijab Tutorial-nya dan yang jd seksi dokumentasi itu namanya Mbak Kiki. (Terimakasih temaaan! :* )

Giliran Mbajel sharing ttg Kewajiban Hijab bagi Wanita

Nah, siswi-siswi yang ikutan saya bagiin semacam "Qcard" yg isinya materi yang saya share hari itu..

"Q card"

Nah ini gadis-gadis cantik yang walopun belom ber-hijab tp mau ikutan event "Happy in Hijab"...

Adinda - Amanda
Amanda - Adinda "in" Hijab :)
Oia, doain yaaa... Mereka yang ikutan ini siswi-siswi kelas XII yang bentar lagi mau Ujian Nasional. Khusus untuk Adinda, dia punya Nadzar "klo keterima di Fakultas Kedokteran salah satu PTN mau pake Hijab permanen". Mohon doanya yaaaa~  Alfatihah! :)

Bukan karena sudah sempurna saya mau berbagi, tp karena saya bahagia makanya saya mau berbagi kebahagiaan. Semoga kegiatan-kegiatan semacam ini bisa terus berlanjut, biar bisa saling mengingatkan dan menguatkan. 
"Sampaikanlah dariku walau hanya satu Ayat" (H.R Bukhari)
Wassalamu'alaykum :)

Selasa, 10 Januari 2012

"97 days to UN"


Belom tau harus ber-ekspresi gimana ngeliat pajangan dinding di sebuah ruang kelas di Sekolah. Pajangan dinding tulisannya "97 days to UN". Mungkin rasa bangga akan kreatifitas mereka, tapii bisa juga rasa iba karena segitu bersiapnya mereka menghadapi "Ujian Nasional", karena gw sangat yakin didalam hati anak-anak yang akan menghadapi ujian itu pasti ada kecemasan yang macem-macem. UN ini menurut gw sih "biang kerok", adaaa aja masalahnya! Yang udah paling pasti bermasalah adalah mental smua orang yang terlibat; mulai dari pihak sekolah, murid dan orangtuanya. Inget kasusnya Alif dan Ibunya (Siami) yang diusir dari kampung karena mengungkap kasus nyontek massal di SDN Gadel II Surabaya? Pas diwawancara di sbuah acara talkshow di TV, si Alif bicaranya irit2 dan penuh keraguan, pertanda sudah ada luka dan trauma dlm dirinya. Ada lagi anak lelaki yang nyoba gantung diri krn ga boleh ikut UN krn nunggak SPP 10 bulan, dan dia hidup dengan cacatnya sampai sekarang.

Jangan heran klo Indonesia ini sukses jadi Negara ter-korup se-Asia Pasifik. Subhanallah.. Mantep yaa?! Udah blur antara salah dan benar, siapa dan apa yang harus dibela! 

Bener-bener kusut ini Negara. Gimana ga kusut, Anak-anak Indonesia sejak dini udah dipaksa untuk mengejar sesuatu yang belum tentu dia butuhkan. Anak-anak dipaksa untuk mendapatkan nilai bagus untuk mata pelajaran yang belum tentu jadi bakat-minat mereka. Ya hasilnya bisa diliat, anak-anak itu tumbuh mjd manusia-manusia korup kaum matrealis, yang mengejar sesuatu yang belum tentu dia butuhkan. Mereka fikir, mereka butuh uang sebanyak itu! Dengan segala kebaikan yang sudah mereka korbankan, pada akhirnya mereka akan mati juga, masuk ke dalam tanah tanpa membawa harta laknat penuh maksiat.

Ujian Nasional ini sukses memancing kepanikan semua pihak untuk mencapai "lulus UN dengan nilai yang baik". Kerja keras anak selama satu jenjang pendidikan (SD/SMP/SMA) diukur hanya dari beberapa mata pelajaran yang sama sekali tidak bisa menjamin kebahagiaan anak tsb dikemudian hari. Anak harus ber-tegang2 ria untuk menjawab soal-soal konyol yang nantinya menentukan kelulusan. 

Dear Parents (or parents to be), for the sake of ur children, yang menentukan seseorang bisa sukses bahagia nantinya itu bukan seonggok Ujian Konyol dari Negara blunder ini! Jadi cerdas-cerdaslah mendampingi anak-anakmu untuk melewati jenjang demi jenjang kehidupannya, termasuk jenjang pendidikan ini. Asuh anak-anakmu untuk peka mengamati apa yang dia sukai, dorong anakmu utk mencari sesuatu yang benar2 dia butuhkan dan biasanya yang ssorg butuhkan adalah sesuatu yang bisa bikin dia bahagia. 

Kebahagiaan adalah ketika apa yang dia sukai menjadi sebuah keahlian yang menghasilkan.

Dari segala kekusutan ini, yang pasti anak-anak gw ini udah sukses nge- switch  energi cemasnya itu jadi sebuah inovasi kreatif. Pajangan dinding itu jadi  semacem kalender sobek yg tiap hari angkanya bakal berkurang terus sampe hari Ujian Nasional itu tiba.


Semangaaaattt!!!!
CMIIW
:)

Kamis, 29 Desember 2011

Child is a Canvas and Parents are the Painter

Salaaam People!

i wanna say Hi to the Parents all around the world, who did a very good job.. Thank u for paint ur blank canvas into a great painting, thank u for preparing ur children to be somebody who could inspiring people.. May happiness comes along with u forever.
And i wanna say hi also, to the parents who did forgot or didn't even have any idea what will their children's gonna be, Parents who did many wrong behaviour that couldn't be imitate by their children to be "somebody". May His blessings and forgiveness always descends upon you :__(

Terimakasih dan salam itu saya sampaikan kepada para orang tua di seluruh dunia karena jika Tuhan Yang melukis pelangi Nan Agung itu, maka yang melukis seseorang menjadi sesuatu yang Bermakna adalah orangtuanya. Memang tidak sepenuhnya orang tua memiliki pengaruh terhadap keberhasilan/kegagalan seseorang, tapi Orang Tua lah yang mendirikan pondasi awal bagi terbentuknya kepribadian seseorang. Ibarat mau bikin rumah, Orang tua yang pertama kali merancang dan merencanakan bangunan itu mau menghadap ke barat/timur/selatan/utara, atau seperti apa bentuk arsitektur bangunan itu, atau mau berfungsi sebagai apakah bangunan itu nantinya?

Istilah kanvas dan pelukis ini bukan berarti orang tua punya hak penuh untuk menentukan di depannya si Anak mau jadi apa, tp Orang tua punya tanggung jawab penuh untuk membentuk pondasi awal, mencipatakan situasi kondusif untuk si Anak tumbuh berkembang sesuai dengan potensinya. Peka melihat potensi anak sejak dini, asah potensinya, jadilah pribadi yang patut dicontoh (ga pake bawel, contohin aja).
Orang tua jangan jadi pelukis egosentris, yg melukis secara sporadis!
Ngelukis tanpa konsep, ngelukis asal ngelukis yg penting ada coretan, tanpa mikir bakal jadi gambar apa, harus pake cat macem apa, kuas yg mana.

Membangun sebuah keluarga dan menghasilkan keturunan, menjadi "sekedar" tradisi sosial turun temurun yang normal-nya dilalui oleh semua mahluk, termasuk manusia. Seperti yang gampang klo ngliat seseorang berusaha membangun sebuah keluarga.. Dengan lebih repot merancang konsep resepsi pernikahan daripada mengonsep matang-matang  "kehidupan pernikahan"; keluarga macam apa yang ingin dibuat, kontribusi apa yang mau dihasilkan oleh keluarga yg ingin ia buat. Alhasil, prahara rumah tangga yang berakhir perceraian menjadi hal awam bagi manusia jaman sekarang.

"The Blank Canvas"
Aku, sebuah lukisan hasil karya kedua orang tuaku dan lingkungan tempat hidupku, mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pelukis. Aku mau terus membaca, belajar, menyiapkan diri untuk menjadi seorang Pelukis dan menghasilkan Lukisan-lukisan indah yang mampu membuat Dunia menjadi lebih Cantik..

:)

You're the Inspiration..

Selalu penasaran klo abis ngeliat sosok Publik Figur yang menginspirasi. Penasaran pengen tau masa kecil, pola asuh, dan kebiasaan-kebiasaan apa yang ditanamkan sama orang tuanya sampe dia itu bisa menjadi seseorang yang punya makna bagi dunia. Nahhh... As i promised on my last post, i would like to share the Book Review "Memoar of David Foster".


(Sebelumnya klo yg blm familiar sm namanya David Foster, silahkan liat salah satu dari lagu ngeHITSnya ini)



David Foster lahir di Victoria, British Columbia, Kanada pada tanggal 1 November 1949. Dia satu-satunya anak lelaki di keluarganya, anak ke-6 dari 7 bersaudara. Bisa dikatakan ayahnya juga seorang musisi, dan ibunya "Wanita Karier" di rumah tangga a.k.a housewife.

Bakat musikal DF sudah terlihat dari dia umur 4 tahun, ketika ibunya lg lap-lap piano dan ga sengaja kepencet 1 tuts, waktu itu DF lg main di tengah rumah dan dia tau klo yang ke-pencet sama ibunya itu nada E. Dari situ orang tuanya sadar klo DF punya bakat musik dan merekapun mendaftarkan DF untuk ikut kursus piano. Dari umur 4 tahun - remaja - sampe akhirnya dia dewasa, DF konsisten menekuni bidang yang memang jadi passion- nya, sehingga buat dia ga pernah ada istilah "kebanyakan musik". Dulu dia pernah sekali-kalinya nolak untuk les piano, dan dia dapet hukuman dari Ibunya dengan disuruh duduk di kursi pianonya sampe tengah malem. Hal ini adalah satu bentuk konsistensi pola didik terhadap aturan yang udah dibuat sama orangtua.
"Ibuku memang tidak berbakat musik, tetapi ia mengerti sekali kalau aku berbakat dan ia ingin aku mengembangkan bakatku, ia mengajarku untuk tidak menerima bakat itu begitu saja. Ibuku benar-benar tegas dalam hal peraturan dan ada banyak peraturan yang berlaku di rumah kami."
Ga ada kompromi untuk sesuatu yang udah diputuskan, konsistensi sebuah aturan. Aturannya, David kecil harus latihan piano selama 20 menit; semalas apapun, secapek apapun aturan ini harus tetep ditegakkan. Trus, aturan-aturan lain yang dibuat untuk smua anak-anak:
"...kami harus makan malam pukul 5.30 setiap malam, dan kami tidak diizinkan untuk berbicara kecuali bila diajak bicara oleh orangtua kami. Memang kelihatan aga ketat, tetapi kalau ditinjau kembali aku rasa peraturan itu benar-benar masuk akal. Bayangkan jika 6 anak perempuan berbicara dalam waktu bersamaan, pasti suasana akan menjadi sangat hiruk pikuk.
Peraturan lainnya adalah kami harus pergi ke gereja setiap hari Minggu. Sepulang dari gereja, ketika sampai di rumah, aku mengganti pakaianku dengan pakaian biasa lalu mengerjakan tugas rumah tangga. Aku akan membantu ayahku memotong rumput atau mencari kayu untuk tungku kami, dan jika kamarku rapi aku bebas untuk bersepeda dan bermain bersama teman-temanku. Tidak ada yang khawatir mengenai helm, atau kemungkinan penculikan, atau pengendara mabuk. Satu-satunya tanggung jawabku adalah mendengarkan siulan ayahku yang memanggil untuk makan malam."
Aturan-aturan yang logis dan beralasan, aturan yang mengembangkan sisi tanggung jawab anak, orang tuanya ga perlu cerewet tentang banyak hal, cukup kasih kepercayaan. Orang tua DF juga "memanusiakan" dia sedari kecil, dengan memberi kepercayaan dan menghargai setiap keputusan.

Contohnya, waktu DF umur 10 thn pernah lg main sepedah dia papasan sama mobil polisi, anak kecil sotoy balik badan trus ngatain polisi itu "ba*i!", dan si polisi pun mundur teratur dan turun nanyain td DF manggil dia apa. DF ga ngaku krn ketakutan stengah mati, akhirnya sepedah dan pengemudi ciliknya pun diangkut ke dlm mobil polisi dan dibawa pulang untuk diserahkan ke orangtuanya. Waktu itu Ayahnya kaget dan segera nanya apa yang terjadi, polisi itu pun cerita klo td anaknya ngatain dia "ba*i". Ayah DF bertanya memastikan apa bner dia berbuat bgitu, DF bohong dan ngga ngaku. Si Ayah pun menegaskan kpd polisi "Anakku tidak berbohong, jika ia bilang tidak itu artinya dia tidak melakukannya" dan si Polisi pun pergi dengan tatapan muak ke DF. Hahaay.. Terlihat betapa si Ayah sangat menghargai ucapan DF, memposisikan DF sbg seorang manusia yang patut dipercaya.
"Ayahku tdk pernah sekalipun membahas peristiwa itu, tetapi kejadian itu tinggal bersamaku selama hidupku. Aku telah berbohong kpd Ayahku, dan aku merasa buruk sekali, dan setelah itu aku selalu berusaha utk berbohong seminimal mungkin."  
(See..?! Ga pake bawel berisik kaan...)

Orang tua Df juga ga pernah memaksakan atau mencampuri terlalu dalam mengenai pilihan hidup anaknya. Pernah, waktu Ayahnya mulai melihat DF sangat totalitas di bidang musik. Satu hari, DF pulang pagi dan Ayahnya masi bangun, DF diajak bicara serius tentang aktifitasnya -yang ga ada jeda- untuk musik. Ayahnya menanyakan keseriusan dia tentang kegiatannya itu dan mengingatkan klo bisnis musik itu tidak mudah. Tp dijawab dengan yakin sm David klo dia ga pernah ngerasa kesulitan dan disitu Ayahnya cuma minta DF untuk mengejar sesuatu yang memang jadi passion -nya, ga ada arahan ato perintah yang memaksakan kepada sesuatu yang lebih baik menurut Ayahnya, dan buktinya bidang yang katanya ngga mudah bisa menghasilkan sesuatu yang lebih dari cukup buat seorang David Foster.

Jd, klo diliat disini orang tua cuma perlu jadi fasilitator, bukan diktator. Anak itu ibarat kanvas, orang tua dan lingkungan ibarat pelukisnya. Orang tua-lah yang menggoreskan sketsa di atas kanvas pertama kali, selanjutnya kanvas itu mau ber-gambar apa, ada kontribusi dari dalam diri si Anak dan dari lingkungan tempat dia hidup.
"..Ketika berumur 5 atau 6 tahun, aku seperti diajar untuk merasa bahwa aku akan melakukan sesuatu yang penting dalam hidupku...". 
15 piala grammy, 1 piala emmy, 1 golden globe untuk lagu-lagu produksinya adalah bukti prestasi Orang tua David Foster yang berhasil menjadi fasilitator DF untuk menemukan passion -nya sedini mungkin dan akhirnya menjadi sumber penghasilan dan kebahagiaan. Bahagia karena karya-karyanya bisa membahagiakan orang di dunia tentunya..

"Kau adalah arti hidupku, kau adalah inspirasi
kau membawa rasa dalam hidupku, kau adalah inspirasi
ingin kau ada di dekatku, kuingin kau mendengar
tak ada yang lebih membutuhkanmu daripada diriku..."

Ini tuh chorus dari salah satu HIT -nya David Foster... Silahkan ditebak!
(That's why i'd prefer love songs in foreign language, buat ngartiin hrs mikir dulu. Klo lagu cintanya orang indonesia kan langsung ngerti artinya, macem2 bgitu tuh bahasanya menye'-menye'  bikin mual...)

Btw, bukannya saya segitu menggilai DF ini yaa, tp moment-nya pas aja abis nonton konsernya dan memang prestasinya yang mendunia selama 4 dekade itu meng-inspirasi saya untuk mencari tau latar belakang kehidupannya dia. Dan saya sangat antusias menyiapkan diri untuk bisa menghasilkan pribadi-pribadi penerus yang bisa mewarnai dunia seperti David Foster ini salah satunya.

Saya sedang belajar, jd klo ada yg kurang pas mohon pencerahannya kakak..



Untuk para orang tua dan calon orang tua,
"Konsisten, Beri arahan dan kepercayaan, Hargai keputusan dan jadilah Tauladan!"
Salaaaam~
:)